Sabtu, 12 Juli 2014

Cerbung: Secret's #1

Heyo, yo, yo! Eh, maafin, ya? Maklumin aja, deh, lagi enggak jelas gini :D
Aku mau nge-post cerita. Terserah kalian mau baca apa enggak ;)
Bahasanya mungkin sedikit dewasa. Jadi, bagi anak-anak dibawah 10 tahun, jangan baca, ya? :p

Read More >>
(Tolong kalau mau save gambarnya, izin dulu, ya? :) )
Hai, perkenalkan, namaku Fariza Auridial. Aneh? Yah, sedikit, kan? Muehehehe ... Panggil saja aku Fariz. Aku ini perempuan. Tapi panggilanku kayak anak cowok, ya? Biarin, deh. Terserah aku, dong ...! Aku ini suka banget nonton film Spongebob. Ceritanya kocak banget!
Suatu pagi dihari Senin ...
Ini hari pertamaku aku masuk sekolah kembali setelah libur selama dua minggu. Kini, aku menginjakkan kaki dikelas satu SMP. Hehehe ... biasa, anak SMP. Aku sedang nonton teve ketika Bunda memanggilku.
"Auri, ayo berangkat," panggil Bunda. Bunda, Ayah, Kakakku--Mbak Ning--dan semua keluargaku memanggil aku Auri. Katanya, panggilan Fariz terlalu kecowokan banget. Aku sih, enggak masalah.
"Iya, lima menit lagi, ya, Bun?" sahutku.
"Ayo berangkat, Auri! Enggak ada alasan lagi. Toh, kamu bisa nonton Spongebob lagi nanti. Setelah pulang sekolah. Nanti, kan, ada MOS," ucap Bunda mengomeliku.
"Ok, ok. Sebentar, Auri ambil tas dulu." Aku mengambil tas di sofa ruang teve dan segera keluar rumah.
__________________________________________
"Kamu telat, ya?" tegur salah satu kakak kelasku. Aku baru datang ke sekolah. Bunda sudah pulang ke rumah menggunakan mobil. Aku mengangguk. "Kalau begitu, ikut gue!" Sebelum aku menyahut, dia sudah menarik lenganku lebih dulu.
"Karena cuman kamu yang telat, kamu dihukum!" seru temannya ketika aku sudah berhenti diseret. "O ya, nama gue itu Vero. Sekarang, hukuman buat lo itu ..."
"BERHENTI!"
Aku menoleh. Kaget. Seorang kakak kelas--perempuan--lainnya muncul. Cantik sekali. Rambutnya pirang keemasan. Matanya bulat berwarna biru. Tinggi pula. Ckckck, aku kagum sekali.
"Apaan, sih, lo? Ganggu aja," ujar Vero garang.
Kakak perempuan itu merentangkan tangan dihadapanku. "Jangan sadis, Ver. Lo sadar enggak, MOS itu terlalu kekanak-kanakan. Konyol!" kata Kakak perempuan itu. Dia berbalik menghadapku dan tersenyum. "Nama kamu siapa? Kelasnya dimana? O ya, nama aku Jessy."
Aku menjawabnya. "Aku Fariza Auridial. Kelas 7-9."
"Oke, kuantar," jawab Kak Jessy. Aku menurut saja.
Aku benar-benar diantar ke kelasku. "Makasih, Kak," ucapku.
"Enggak usah panggil pake 'Kak'." Kak Jessy tersenyum kaku. "Panggil aja Jessy. Gue belum tua-tua amat, kok."
Aku menatapnya heran. Panggil ini salah, panggil itu salah. Huft! Ya sudahlah, terserah dia. Aku menggerutu dalam hati.
"Iya, Kak. Eh, maaf. Maksudnya Jes ... Jessy."
"Ya," sahutnya singkat lalu pergi.
Apa maksudnya dari kata 'ya'? Huh, agak kesal juga.
"Woi, Riz. Ngapain disini? Buruan masuk! Gurunya datang berabe, lho," seseorang menepuk bahuku. Aku menolah. Rupanya Dennis. Dia salah satu anak cowok yang akrab denganku dari kelas 6.
"Enggak. Gue cuman datangnya telat. Jadi, mau dihukum. Terus---"
"Gue gak minta cerita lo," potong Dennis. "Masuk lo!"
Aku nyengir lalu melangkah masuk ke dalam.
_______________________________________________
"Wih, siapa, tuh? Cakep banget, ya?"
Kudengar ucapan teman-teman cowok dikelasku ketika istirahat. Tumben kompak. Aku memikirkannya. Tapi, aku baru sadar kalau yang dibilang cakep sama mereka-mereka itu adalah Jessy. Yeee...
"Hei," sebuah suara terdengar.
"Lho, Jessy?" Aku menekan nada heran.
Jessy tersenyum. "Ikut gue. Gue ada urusan sama lo."
"Hah? Urusan?"
______________________Bersambung_____________________

Maaf kata-katanya terlalu dewasa, ya? Dan maaf kalau enggak jelas. Jangan ngejelek-jelekin kalau enggak suka. Omong-omong, ada yang tau urusan apa Jessy sama Fariz (Auri) enggak? ;2

2 komentar: